Tidakkah kita dibayar terlalu mahal? Ataukah kita melulu akan jadi budak-budak yang dibayar murah, seperti kata seorang kawan? Berapa seharusnya kita dibayar? Jawabannya tentu tergantung dari patokan apa yang kita pakai. Ada beragam standar yang mungkin bisa diketengahkan.

Ya, dalam dua minggu ini remunerasi yang selalu jadi tanda tanya itu jelas sudah. Kita dibayar sekian-sekian di lembaga ini. Dan barangkali dalam waktu dekat akan bertambah sekian-sekian lagi, setelah diperhitungkan dengan gaji pokok, dsb…. (saya tulis sekian-sekian karena kalian tentu sudah tau semua).

Tentu kita sepakat bahwa yang kita terima ini adalah sah, legal, dan halal, karena jelas dasar hukumnya. Atau mari kita anggap sepakat saja dulu. Kalau tulisan ini dapat respon dari kawan-kawan, saya yakin perbincangan ini akhirnya akan sampai ke sana juga. Kalau ada yang bilang rezeki yang kita cari adalah ”yang halal” dan ”yang banyak”, maka mari kita awali dengan ”yang banyak” itu terlebih dahulu. Tiga pertanyaan di atas adalah juga berkaitan dengan ”yang banyak itu”. Bicara mengenai jumlah selalu lebih menarik.

Kalau kita bandingkan dengan gaji (gaji di sini adalah THP) seorang pegawai negeri di Singapura, gaji kita masih lebih kecil. Kalau kita bandingkan dengan gaji seorang karyawan di sebuah perusahaan multinasional, untuk level yang sama dengan kita, gaji kita juga masih lebih kecil. Kalau dibandingkan dengan dengan gaji pegawai pajak atau BI, gaji kita mungkin masih lebih kecil. Apalagi bila dibandingkan dengan keinginan dalam hati, gaji kita tentu tak pernah cukup, akan selalu terasa kurang. Akan selalu terasa, wah alangkah enaknya kalau saya di Singapura, atau di Unilever, atau di BI (tapi dipajak tetaplah selalu tidak enak). Di sini ya.., kita masihlah budak-budak yang dibayar murah.

Akan tetapi, perbandingan yang demikian tentu tidak akan selesai. Pasti ada standar dan kriteria yang lebih masuk akal tentang berapa seharusnya kita dibayar. Remunerasi katanya sudah mengakomodir semua itu. Saya tidak tau persis apa saja.

Buat saya pribadi, standarnya adalah standar pedagang. Berapa banyak yang bisa saya jual, maka sebanyak itulah yang menjadi hak penghasilan saya. Saya akan sangat kecewa bila penghasilan saya sama atau lebih sedikit dari yang lain, sementara saya menjual lebih banyak. Dan saya juga tidak akan keberatan tidak menerima apa-apa, bila tidak ada yang saya jual. Sederhananya begini; bayaran kita sepadan dengan apa yang kita hasilkan. Memang agak sulit untuk menerjemahkan standar ini ke dalam sistem penggajian suatu institusi. (dodi)