Suara deru mesin kendaraan bermotor di iringi teriakan dan riuh suara bak truk di pukul-pukul, memecah suasana sunyi ruangan kami. Dari jendela lantai empat gedung kantor, kami melongok keluar menilik ada apa gerangan. “Ah demo lagi” gumamku. Di bawah sana iring-iringan 9 truk penuh manusia lengkap dengan berbagai atributnya, membelah Jalan A.P Pettarani yang masih basah tersiram air hujan.

 

 

 

 

Dan beginilah suasana bumi Celebes selatan akhir-akhir ini. Tak henti-hentinya media massa termasuk televisi yang masih sibuk berkutat dengan berita keadaan mantan penguasa orde baru, turut andil memberitakan gelombang demonstrasi rakyat Makassar atas keadaan yang sedang menimpa para petingginya. Elit politik telah berhasil menyulut bara perseteruan antara gubernur dan wakilnya yang kemarin maju menggandeng pasangannya masing-masing. Tak mau kalah dengan suhu politik yang semakin memanas, cuaca kota terbesar di kawasan Timur/Tengah Indonesia ini juga semakin tidak menentu. Terkadang panas menyengat, namun dengan tiba-tiba langit berubah menjadi gelap tertutup awan hitam. Hujan lebat pun menghujam bumi Makassar, tak jarang disertai pula angin yang cukup kencang sehingga merubuhkan bangunan, menumbangkan pohon dan papan reklame. Dua keadaan seperti ini yang sering di beritakan di layar kaca, membuat orang tua saya sering menelepon saya untuk menanyakan keadaan saya. Padahal saya sendiri juga mencemaskan keadaan rumah disana, karena saya tahu beberapa rumah tetangga saya sudah terendam sungai bengawan solo yang meluap.

lanjutin baca ceritanya….