“Akhirnya aku menemukan istilah yang tepat untuk situasiku”

Sudah seminggu ini perkuliahanku dimulai. Sesi kedua dari pendidikan formal setelah sempat bekerja dua tahun. Menyenangkan sekali kembali melewatkan hari-hari dengan belajar dan tugas. Itu bayanganku dulu.

Kembali ke bangku kuliah ternyata tidak semenyenangkan itu. Memang ada bagian-bagian dimana mau tidak mau dan seharusnya memang aku syukuri. Kesempatan memperoleh pendidikan, kembali ke tanah jawa (sebelumnya terpesona dengan tanah sulawesi), dan kebijakan yang mendukung tidak dipotongnya pendapatan. Tentu saja kesempatan sebagus itu tidak boleh disia-siakan. Jadilah aku di sini, di kampus tercinta Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Kembali ke tempat dimana aku telah menghabiskan tiga tahun di lingkungannya -menyelesaikan pendidikan diploma tiga – membawa suasana masa lalu ke dalam benakku. Saat-saat sibuk dengan kegiatan, bukan pekerjaan. Saat-saat indah waktu kuliah (Ahh…berlebihan mungkin istilah ini hehehe).

Meninggalkan pekerjaan yang sudah ditekuni selama dua tahun menimbulkan ke”kagok”an tersendiri. Rasa dimana perubahan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan (resisten terhadap perubahan). Rasa tersebut tentu saja tidak hanya berhenti di situ saja, ia menjalar ke bagian dalam otak dan memberi instruksi untuk malas kuliah. Post Work Syndrom.

Tentu kita sudah mengenal post power syndrom, sindrom dimana seseorang menjadi sakit-sakitan setelah kehilangan jabatan. Begitupun saat seseorang berpindah dari suatu kebiasaan dan lingkungan menuju kebiasaan dan lingkungan lain yang berbeda. Maka hasilnya rasa malas menyesuaikan diri dan sakit ringan (seperti yang penulis aku selama seminggu). Perubahan yang terjadi pada diriku akhirnya kunamakan post work syndrom karena perubahan lingkungan yang terjadi pada penulis dari bekerja menjadi tidak bekerja. Kuliah.

Tentu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang menyenangkan jauh lebih mudah daripada harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih buruk dari sebelumnya. Maka aku bayangkan bagaimana kondisi mental dari seseorang yang di-PHK? Sedih sekali aku membayangkannya. Lebih sedih lagi aku bayangkan seandainya pengangguran baru tersebut terbiasa dengan situasi menganggurnya.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, penulis sampaikan agar semangat untuk perbaikan diri dapat tetap dijaga meskipun dalam lingkungan baru. Kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri telah diberikan cukup oleh Allah SWT, sehingga berusaha dan tentunya berdoa agar diberikan kemudahan dalam melakukan apapun adalah keharusan.

Just Hammam